-->

Kresna Kembar

Hastina geger, raja Sosrowindu datang dan meminta untuk dijadikan senopati Hastina mewakili Korawa. Prabu Doryudana terpaksa menerima Prabu Sosrowindu karena usulan resi Dorna, Prabu Sosrowindu itu termasuk murid dari resi Drona.

Prabu Sosrowindu akan membantu Korawa untuk memusnahkan  Pandawa namun sebelumnya ia  mengajukan syarat agar ia diberi kesempatan untuk membunuh musuh bebuyutannya yaitu Prabu Baladewa. Syarat itu jelas membuat gempar para Korawa, karena Prabu Baladewa memang dekat dengan Hastina. Patih Sengkuni juga memberikan usul agar tidak membuat masalah dengan sesama barisan Korawa karena itu akan membuat barisan Korawa tidak solid dalam menghadapi Bharatayuddha.
Tetapi tidak dengan Resi Drona, menurutnya, Prabu Baladewa sudah tidak loyal dengan Korawa, dia beralasan bahwa Prabu Baladewa sering tidak datang jika ada paseban agung di kerajaan Hastina. Prabu Sosrowindu kemudian meyakinkan bahwa permintaannya itu adalah wajar. Karena ayahnya, Kangsadewa gugur di tangan Baladewa, maka dari itu ia ingin menuntut balas kepada raja Mandura itu.

Prabu Doryudana menjadi bingung, maka ia bertanya kepada raja Angga Karna, sahabatnya. Karna menyatakan bahwa sebaiknya permintaan Prabu Sosrowindu dikabulkan. Tetapi juga dengan syarat, jika tidak berhasil maka Sosrowindu harus dibunuh atau menerima hukuman mati karena telah membuat geger di kubu Korawa jelang Bharatayudhha. Tetapi jika  berhasil, maka Sosrowindu akan langsung diangkat menjadi senopati Korawa. Hal ini dengan pertimbangan bahwa jika Prabu Sosrowindu berhasil mengalahkan Prabu  Baladewa, berarti dia memiliki kesaktian yang tinggi, karena Prabu Baladewa sendiri  dikenal sangat sakti.

Setelah mendapat persetujuan dari Prabu Doryudana, pasukan Sosrowindu langsung bergerak ke Mandura, diikuti Resi Drona. Sedangkan wadya bala Korawa yang diikuti Patih Sengkuni dan dibawah pimpinan raja Angga Karna menyusul dengan tujuan, jika nanti Sosrowindu berhasil maka akan langsung mengangkatnya menjadi Senopati, dan sebaliknya, jika ternyata ia gagal, maka mereka sudah siap untuk menghukum Prabu Sosrowindu. Sebelum masuk ke kapal batas Mandura, Resi Drona bertanya, sebaiknya menggunakan cara apa untuk menghadapi Prabu Baladewa, menggunakan cara keras atau cara diam-diam.

Jika menggunakan cara keras,yaitu dengan membawa wadya bala pasukan Sosrowindu langsung melabrak dan menantang Prabu Baladewa secara langsung.Namun cara ini akan mengakibatkan pertumpahan darah besar-besaran  di kedua bela pihak.

Sedangkan  cara kedua, atau diam-diam/apus-apus/licik  yaitu  dengan cara Resi Drona masuk ke sitinggil Mandura dan bertemu langsung dengan Prabu Baladewa, dan memintanya untuk diajak ke negeri Hastina. Dengan tujuan, nanti setelah Prabu Baladewa bersedia, di tengah jalan ia akan dikeroyok sampai tewas. Dan Prabu Sosrowindu menyetujui pilihan yang kedua, yaitu dengan cara diam-diam.

Sementara di Mandura, Gatotkaca datang menghadap meminta Prabu Baladewa bersedia datang ke Amarta atas permintaan dari semua Pandawa dan adiknya Kresna. Hal ini dimaksudkan untuk menggantikan sementara posisi Kresna yang sedang bertapa di wukir untuk mendapatkan wahyu kemenangan bagi Pandawa dalam Bharatayuddha.

Prabu Baladewa menerima ajakan Gatotkaca, dia juga menceritakan keadaan Hastina. Dia merasa bahwa Prabu Sosrowindu , sudah mulai mendapat hati di kalangan Korawa. Oleh karena itu, Baladewa berniat keluar dari lingkup kekuasaan dan persahabatan dengan Korawa. Tiba-tiba datanglahg Resi Drona menghadap, yang didampingi Sengkuni.

Resi Drona menghaturkan sembah, dan mengucapkan maksud kedatangannya kepada Prabu Baladewa, yaitu bermaksud mengundang sang Prabu ke sitinggil Hastinapura untuk menghadiri paseban agung.

Prabu Baladewa langsung menolak dan mengutarakan alasannya, bahwa ia sudah mendengar kabar bahwa Prabu Sosrowindu musuh bebuyutannya sudah diangkat menjadi senopati Hastina. Resi Drona berhasil meyakinkan Prabu Baladewa, namun tidak berhasil, dan akhirnya terjadi pertarungan, yang membuat koncatnya Resi Drona keluar sitinggil.

Gatotkaca kemudian disuruh oleh Baladewa untuk menghadapi Resi Drona, perang terjadi dan berkali-kali Resi Drona harus mundur menghadapi kesaktian sang pangeran Pringgodani. Akhirnya, Resi Drona memanggil Sosrowindu, namun Sosrowindu juga terpental jauh ke belakang dan harus mengakui kekuatan Gatotkaca. Sosrowindu akhirnya mengambil senjata pusaka, yaitu panah kemlandingan putih, panah itu berubah menjadi rantai super kuat dan melilit tubuh Gatotkaca. Seketika, Gatotkaca menjadi tidak berdaya dan dibawa ke Hastina untuk dimasukkan ke dalam penjara.

Mendengar Gatotkaca dikalahkan, Prabu Baladewa naik darah dan segera turun laga, dibawanya senjata Nanggala yang dikenal sanggup menggempur gunung. Mengetahui kedatangan Baladewa dengan membawa Nanggala, membuat Sosrowindu menjadi was-was dan khawatir. Setelah ia berhasil mengambil jarak yang cukup, Prabu Sosrowindu segera menembakkan senjata kemlandingan putih, dan senjata itu melilit tubuh Baladewa.

Awalnya Sosrowindu akan membunuh Prabu Baladewa, namun dicegah oleh Resi Drona, Karena adiknya, Kresna memiliki kembang wijaya kusuma yang bisa menyembuhkan penyakit apapun, bahkan menghidupkan orang mati. Jika Baladewa dibunuh, maka Kresna akan dengan mudah menghidupkan kakaknya lagi. Oleh karena itu, cara satu-satunya adalah meringkus Kresna yang sedang bertapa di gunung Wukir.

Prabu Baladewa dibawa dan dimasukkan ke tahanan di Hastina. Sementara pasukan Sosrowindu bergerak ke gunung wukir bersama Resi Drona. Sementara di pertapaan gunung Wukir telah bersiaga pasukan Dwarawati yang mengikuti dan mengawal Prabu Kresna, yang dipimpin oleh patih Udawa, patih Setyaki, dan Resi Mayangkoro Hanoman. Mereka bersiaga penuh agar tidak terjadi sesuatu yang dapat menggagalkan tapa junjungannya.

Pasukan Sosrowindu yang sudah tiba langsung mengepung , Resi Mayangkoro maju dan menghadang pasukan Sosrowindu dengan Gagah. Setelah bertempur sekian lma, akhirnya Sosrowindu terdesak, ia lalu mengeluarkan ajian sepi anginnya. Keluarlah badai dahsyat yang menghantam Resi Mayangkoro Hanoman, ia terpental sejauh-jauhnya.

Melihat Hanoman kontal, Setyaki maju, pertarungan antar keduanya berlangsung imbang, hingga akhirnya Sosrowindu mengeluarkan senjata saktinya Kemlandingan putih yang membuat Setyaki tidak berdaya dan ia dibawa ke Hastina sebagai tawanan.


Melihat Setyaki juga kalah, Resi Mayangkoro Hanoman memberi perintah kepada patih Udawa dan prajurit Dwarawati untuk menyingkir dan meminta bantuan ke Amarta.

Sementara di dalam pertapaan Prabu Kresna menekung, meditasi dan melepaskan sukma sejatinya. Sukmanya melayang hendak menemui dewata. Namun sebelum ia lepas dari raganya, Prabu Kresna berpamitan kepada badan wagadnya. Bersamaan dengan itu masukkan Sosrowindu ke dalam pertapaan.

Dorna kemudian menyuruh Sosrowindu membangunkan Kresna, namun yang ditemukan hanya wagad Kresna yang sudah kosong tanpa nyawa. Resi Drona memiliki akal baru, ia menyurus Sosrowindu untuk mengambil pakaian Kresna. Semua senjatanya termasuk senjata Cakra dan kembang Wijaya Kusuma. Disurunya Sosrowindu untuk mengenakan pakaian Kresna dan berganti rupa menjadi Kresna, dan pergi ke Amarta untuk menipu  para Pandawa agar mau mengalah menyerahkan kerajaan kepada Doryudana.

Namun, tubuh Kresna ternyata masih terdapat lima anasir dan juga empat nafsu. Maka tiba-tiba sang tubuh yang dipanggil raja jati itu menangis sekaligus marah, kemudian menjelmalah tubuh tanpa sukma sejati Kresna itu menjadi seekor singa besar hitam  mulus. Singa jelmaan raga Kresna memiliki keinginan untuk menyelamatkan para Pandawa dari reka daya Prabu Sosrowindu yang telah berubah wujud menjadi Kresna. Kemudian singa itu pergi istana Korawa dan bersembunyi di gerumbul dekat istana Hastina, mengawasi jika Pandawa datang dan terbujuk, dia bermaksud mencegahnya.

Kresna gadungan sampai di Amarta dan menyampaikan bahwa hasil tapanya menyatakan bahwa tidak boleh terjadi pertumpaan darah, dan jalan satu-satunya adalah menyerahkan tuntutan negara Hastina sepenuhnya kepada raja Doryudana. Puntadewa langsung percaya dan menyetujui apa yang dikatakan penasihatnya itu, karena yang nampak di mata para Pandawa adalah Kresna. Bima, Arjuna dan Nakula pun menyetujuinya, namun bungdu Pandawa, Sadewa tidak menyetujui dan  meninggalkan sitinggil.

Sadewa pergi meminta perlindungan kepada Semar, sementara kakaknya, Bima murka dan menyuruh anaknya, Antareja untuk menyusul pamannya itu. Semar tahu bahwa Kresna yang sekarang ada di Amarta memang bukan Kresna yang asli tetapi Prabu Sosrowindu. Maka ia bertekad melindungi Sadewa dari kesalahpahaman.
Raden Antareja datang dan disambut Punokawan. Antareja berhdapan dengan petruk, ia diobat-abitkan seperti kertas, sampai raden Antareja menjerit tobat. Tetapi setelah diturunkan, Antareja tak mau mundur, dia justru menyungut sekujur rubuh Petruk. Petruk menjadi kewalahan dan mundur.

Bagong kemudian maju dengan taktik melumuri tubuhnya dengan lumpur.Pertama Antareja melihat itu tidak mau menyungut, namun setelah dilihat mata Baong tidak tertutup lumpur, matanya disungut. Akhirnya, Bagong juga  menutup matanya dengan lumpur, hingga Antareja kewalahan.

Datanglah Werkudara dengan marah, para Punokawan takut. Sadewa tetap bersikukuh menolak permintaan Kresna palsu itu, Bima naik pitam dan menghajar adiknya itu dan dilempar jauh.

Di atas langit , sukma sejati Kresna bertemu dengan Batara Guru. Batara Guru menyanggupi untuk menurunkan wahyu kemenangan Bharatayuddha di Kurukhsetra. Setelah itu, Kresna pun hendak turun untuk kembali ke raganya, dan ia mendapat kabar bahwa terjadi keributan di dunia yang akan mengancam kelangsungan perang Bharatayuddha jika Puntadewa dan Pandawa rela melepas tuntutan negara Hastina.
Sementara Puntadewa telah berada dalam perjalanan menuju Hastina . Karena tahu bahwa tubuhnya telah diambil Sosrowindu, maka Batara guru menjadikan sukma sejati Kresna menjadisebuah wujud baru dan diberi nama Begawan Sukmo Lelono. Ia kemudian ditugaskan ke Hastina untuk meminta negeri Hastina secara paksa.

Dalam perjalanannya ke Hastina, Begawan Sukma Lelono bertemu Punokawan dan Semar. Semar dan Punokawn mengenali Sri Kresna. Dan saat itu mayat Sadewa yang ditemukan menggeletak setelah dihajar kakanya, disembuhkan dan dihidupkan kembali dengan kesaktian Semar.

Kedatangan Begawan Sukmo Lelono jelas membuat geram Dorna, ia meminta sang Begawan keluar dan menunggu keputusan di alun-alun Hastina. Drona kemudian meminta para Pandawa untuk menghabisi nyawa sang Begawan. Pandawa pun menuruti apa yang menjadi perintah gurunya itu.

Arjuna, penengah Pandawa yang juga merupakan murid kesayangan Drona serta teman yang paling dikasihi Kresna maju menghadapi sang Begawan. Berbagai senjata ia gunakan, semua ajian dia kerahkan, bahkan Pasopati akhirnya ia keluarkan, namun justru berbalik padanya. Arjuna menyerah dan meminta kakaknya, Werkudara maju, namun Werkudara pun tidak kuasa menghadapi Begawan Sukma Lelono.

Akhirnya, Prabu Kresna palsu maju dan terjadilah adu kesaktian dengan begitu hebatnya. Saat itu macan hitam jelmaan tubuh ragawi sang Kresna muncul dan menyergap prabu Kresna jelmaan dan dalam sekejap macan hitam itu bersatu dengan Begawan Sukma Lelono, maka terbentuklah kembali ke sosok Kresna. Berdiri tegak dua sosok Kresna di alun-alun Hastinapura. Semua yang menyaksikan menjadi tercengang dan tak berkedip memandan.

Dua Kresna itu melanjutkan pertarungannya, hingga salah satunya jatuh, kemudian mengeluarkan senjata cakara. Cakara dileparkannya, tetapi justru kembali ke tangan Kresna yang satu. Akhirnya Kresna palsu malih rupa ke wujud aslinya, Prabu Sosrowindu, karena kedoknya tidak mungkin bisa disamarkan lagi.

Kresna kemudian mengambil jarak agar sanga Prabu Sosrowindu tidak menggunakan senjata Kemlandingan Putih. Benar, Sosrowindu mengeluarkan senjata andalannya itu, dan ketika ia sudah siap mengarahkan pusakanya kepada Kresna, Hanoman datang dan menghantam batu sebesar bukit ke arah Sosrowindu, hingga akhirnya putra kangsa itu mati gepeng beruarai menjadi darah.

Kresna kemudian menyuruh Hanoman untuk menjaga pusaka kemlandingan putih untuk diserahkan kepada anak keturunan Pandawa kelak. Dan semua tahanan dibebaskan, termasuk Prabu Baladewa, Gatotkaca dan juga Setyaki.

Previous
Next Post »