Pengertian, Ciri-Ciri, Jenis-Jenis, Dan Struktur Teks Fabel

Banyak orang bau tanah membiasakan mendongeng untuk buah hatinya sebagai pengantar tidur. Mengapa orang bau tanah suka mendongeng untuk buah hatinya? Ternyata dalam dongeng dongeng binatang termuat nilai-nilai sopan santun perihal anutan hidupan insan yang harus saling menolong, mencintai, dan melindungi sesama makhluk Tuhan.

Orang bau tanah mendongengkan dongeng binatang niscaya pasti memiliki tujuan tertentu. Melalui dongeng binatang, pesan sopan santun dalam dongeng tersebut dibutuhkan akan hingga kepada buah hatinya.

Kali ini saya akan menjelaskan dongeng binatang atau fabel. Pembahasan lebih dalam mengenai fabel yakni sebagai berikut.

Pengertian Fabel

Fabel yakni salah satu dongeng yang menampilkan binatang sabagai tokoh utama. Tokoh tersebut sanggup berpikir, berperasaan, berbicara, bersikap, dan berinteraksi ibarat manusia. Fabel bersifat didaktis atau mendidik. Fabel dipakai sebagai kiasan kehidupan insan dan untuk mendidik masyarakat. Pujangga fabel pertama yakni Aesopus dari Yunani atau dikenal dengan Aesop.

Menurut Dr. C. Hooykaas, ada lima dongeng binatang sebagai dongeng pokok.

  1. "Kancil dan Buaya"
  2. "Harimau dengan Kancil"
  3. "Tupai dengan Rubah Bersahabat"
  4. "Siput dengan Burung Lomba Centawai Berlomba"
  5. "Kancil dengan Anak Lingsang"
  6. Dalam fabel dikenal siklus kancil, yaitu rangkaian (lingkaran) dongeng pada kancil yang pada hakikatnya satu sama lain meruakan satu kesatuan.
  7. "Hikayat Pelanduk Jenaka"
  8. "Syair Pelanduk atau Syair Sang Kancil"
  9. "Cerita Kancil"
  10. "Cerita Pelanduk dengan Anak Nemerang" 

Fabel terdapat di seluruh dunia, hanya tokoh utamanya yang berbeda.

  1. Kesastraan Belanda: Tokoh utamanya yaitu serigala, serigala tersebut bersifat licik, amis hati, penuh tipu muslihat.
  2. Kesastraan Campa, Kamboja, Aman: Tokoh utama  yaitu kelinci.
  3. Kesastraan Indonesia: Tokoh utama yaitu kancil. kancil bersifat arif, cerdik, baik hati, dan suka menolong.
  4. Kesastraan Sunda: Tokoh utamanya kera
  5. Kesastraan Jawa: Tokoh utamanya yaitu kancil
  6. Kesastraan Bali: Tokoh utama yaitu induk ayam hitam.

Ciri-Ciri Fabel

Ciri-ciri fabel sebagai berikut.
  1. Tokoh utama binatang
  2. Alur ceritanya sederhana
  3. Cerita singkat dan bergerak cepat
  4. Karakter tokoh tidak diuraikan secara terperinci
  5. Gaya penceritaan secara lisan
  6. Pesan atau tema adakala dituliskan dalam cerita
  7. Pendahuluan sangat singkat dan langsung.

Jenis-Jenis Fabel

Dilihat dari waktu kemunculannya, fabel sanggup dikategorikan kedalam fabel klasik dan fabel modern.

1. Fabel Klasik

Fabel klasik merupakan dongeng yang telah ada semenjak zaman dahulu, tetapi tidak ketahui persis waktu munculnya, yang diwariskan secara bebuyutan  lewat sarana lisan. Cerita dalam fabel klasik sudah ada semenjak zaman Yunani klasik dan India Kuno, ibarat "Jataka" dan "Pancatantra".

Di Indonesia dongeng tersebut ditemukan pada suku Melayu, Jawa, Sunda, dan Toraja. Dalam sastra Melayu dan Jawa tokoh binatang itu yakni kancil, sedangkan pada sastra Sunda yakni Kera, dan di Toraja yakni monyet hantu.

Ciri-ciri fabel klasik sebagai berikut.

  1. Cerita sangat pendek.
  2. Tema sederhana
  3. Kental dengan petuah/moral.
  4. Sifat hewani masih melekat.

2. Fabel Modern

Fabel modern yakni merupakan dongeng yang muncul dongeng yang muncul dalam waktu relatif belum usang dan senggaja ditulis oleh pengarang sebagai ekspresi kesastraan. Dilihat dari jumlahnya, fabel modern lebih banyak daripada fabel klasik. Tokoh-tokoh dalam fabel modern sangat bermacam-macam mencakup aneka macam jenis binatang ibarat burung, ikan, binatang hutan, atau binatang rumahan.

Contoh fabel modern "Keledai yang Dungu","Gendon Kembali ke Sekolah". Gendon yakni seekor anak gajah dari sekolah gajah.

Ciri-ciri fabel modern sebagai berikut.

  1. Cerita sanggup pendek atau panjang.
  2. Tema lebih rumit.
  3. Kadang-kadang berupa epik atau saga.
  4. Karakter setiap tokoh unik.


Kucing dan Tikus Tua yang Berpengalaman

karya: Aesop

       Pada suatu masa ada seekor kucing yang sangat awas dan sigap. Tikus-tikus takut menawarkan dirinya alasannya yakni takut dimangsa oleh sang kucing. Kucing tersebut selalu siap siaga dengan cakarnya, siap menerkam. Akhirnya, tikus-tikus tersebut tidak berani berkeliaran terlalu jauh dari sarang mereka sehingga sang kucing harus memakai akalnya untuk menangkap mereka.

       Suatu hari sang kucing naik ke atas rak. Ia menggantungkan dirinya dengan satu kakinya pada tali, dengan kepala menghadap ke bawah, seperti telah mati. Saat tikus-tikus melihat posisi kucing ibarat itu, mereka menyangka bahwa sang kucing telah melaksanakan kesalahan. Dengan hati-hati, tikus-tikus itu mengeluarkan kepalanya dari sarang dan mengendus-endus kesana kemari. Karena tidak terjadi apa-apa, mereka hasilnya melompat keluar dari sarang dan menari-nari dengan besar hati untuk merayakan kebebasan mereka.

       Saat itulah sang kucing tiba-tiba melepaskan pegangannya pada tali. Sebelum tikus-tikus tersebut tersadar dari rasa terkejut mereka, sang kucing telah menangkap tiga hingga empat ekor tikus. Sekarang tikus-tikus makin berhati-hati, tetapi sang kucing selalu ingin menangkap tikus. Sang kucing menciptakan tipuan yang lain. Ia mengguling-gulingkan tubuhnya ke daerah terigu hingga tubuhnya tertutup sepenuhnya oleh terigu. Kemudian, sang kucing berbaring belakang layar dengan satu mata terbuka. 

       Yakin bahwa keadaan aman, tikus-tikus mulai keluar kembali dari sarang. Saat sang kucing membisu dan siap-siap untuk menerkam tikus-tikus tersebut, seekor tikus bau tanah yang berpengalaman dengan tipuan sang kucing, bangun sambil menjaga jarak di akrab sarang mereka.

       "Hati-hati!" teriaknya. "Mungkin terigu itu kelihatan ibarat tumpukan makanan yang lezat, tetapi tampaknya itu yakni tipuan dari sang kucing. Apa pun itu, lebih baik kalian semua berhati-hati dan menjaga jarak yang aman."  

Struktur Teks Cerita Fabel

Pada umumnya dongeng fabel terdiri atas empat bab sebagai berikut.
  1. Orientasi, yaitu bab awal berisi pengenalan tokoh, latar daerah dan waktu, dan awalan masuk ke tahap berikutnya.
  2. Komplikasi,  yaitu tokoh utama berhadapan dengan masalah. Bagian ini menjadi inti cerita. Bagian ini harus ada. Jika tidak ada masalah, harus diciptakan masalah.
  3. Resolusi, yaitu kelanjutan dari komplikasi, yaitu pemecahan masalah. Masalah harus diselesaikan dengan cara kreatif.
  4. Koda, yaitu berisi perubahan yang terjadi pada tokoh dan pelajaran yang sanggup dipetik dari dongeng tersebut. 


Pengertian Fabel, Ciri-Ciri Fabel, Jenis-Jenis Fabel, Fabel Klasik, Ciri-ciri fabel klasik, Fabel Modern, Contoh fabel modern, Ciri-ciri fabel modern, Struktur Teks Cerita Fabel, Contoh Fabel